Sudah Empat Tahun, Akses Jalan ke SMK IT Arsitek Kota Bengkulu Bak Lintasan Offroad
AMBONEWS.COM, Kota Bengkulu - Sudah empat tahun lebih akses jalan menuju Sekolah Menengah Kejuruan Islam Terpadu (SMK IT) Arsitek Kota Bengkulu belum juga dibangun. Padahal saat ini Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu tengah gencar menjalankan program seribu jalan mulus.
"Kami sudah mengirimkan surat pengajuan pembangunan jalan pada penjaringan aspirasi dewan, namun belum juga disetujui," kata Kepala Sekolah, Zotman, Sabtu (30/1/2021).
Aktivitas sekolah tetap berjalan meski pemerintah setempat belum mengambil tindakan. Padahal akses tersebut menjadi satu-satunya jalan menuju sekolah dan telah ditunggu oleh para siswa dan pengajar. Para siswa dan guru terpaksa melewati jalan tanah bercampur koral layaknya jalan kebun.
"Kalau sehabis hujan, banyak guru dan siswa jatuh karena jalannya becek," kata Zotman.

Menurut Zotman, meski belum mendapatkan kejelasan terkait pembangunan akses jalan, para siswanya tetap sabar dan semangat ke sekolah.
"Untungnya siswa di sini rajin semua, walaupun becek dan dipenuhi tanah merah di areal sekolah mereka tetap belajar semangat," kata Zotman.
Lebih lanjut, Zotman menjelaskan pembangunan jalan menuju sekolah sebenarnya tinggal setengah kilo meter lagi dari jalan raya. Namun atas kejelasan status jalan yang berbatasan dengan Kabupaten Bengkulu Tengah, membuat pemerintah tidak meneruskan pembangunan.
"Jika dilihat dari wilayah administrasi, ini masih wilayah kota," kata Zotman.
"Padahal jalan kota yang masih bagus masih juga ditingkatkan. Nah ini tidak lebih dari satu kilo meter tapi belum juga disetujui," lanjutnya.
Sekolah dengan 93 siswa dan 15 tenaga pengajar ini, memiliki dua jurusan yakni Desain Permodelan dan Informasi Bangunan juga Teknik dan Bisnis Sepeda Motor. Tak hanya siswa dari kota, sekolah ini juga jadi pusat belajar kabupaten tetangga.
Sementara itu warga setempat, Boy berharap pemerintah melanjutkan pembangunan jalan menuju sekolah tersebut. Apalagi sepanjang jalan ini melalui dua pemukiman dengan jumlah kepala keluarga yang tidak lagi sedikit.
"Yang utama itu kan aktivitas belajar siswa tidak terganggu. Ya mudah-mudahanlah pemerintah menyetujui," kata Boy. (Bisri)